Jun
23

Dunia Pendidikan Kita Miskin Sentuhan Pembelajaran Elektronik?

Filed Under (Education) by hdait on 23-06-2008

Berdasarkan data di Jardiknas,
jumlah lembaga pendidikan di negeri ini, mulai SD hingga PT, baik
negeri maupun swasta, hingga 15 Juni 2008 tercatat sekitar 200.833.
Jumlah ini tentu saja belum termasuk sekolah-sekolah tertentu yang
terhadang oleh beberapa kendala teknis. Ribuan lembaga pendidikan
tersebut tersebar di 33 provinsi, mulai Nanggroe Aceh Darussalam hingga Irian Jaya Barat.
Hitungan kasar, kalau dalam satu lembaga pendidikan mendidik,
katakanlah, 100 anak, setidaknya ada sekitar 20.083.300 anak-anak
bangsa yang tengah digembleng. Sungguh, bukan jumlah yang sedikit. Jika
anak-anak negeri ini terdidik dengan baik, jelas mereka bisa menjadi
“investasi” masa depan dan modal sosial yang cukup membanggakan untuk
membangun Indonesia yang cerdas dan visioner.

Menggembleng
anak dalam jumlah jutaan semacam itu jelas bukan persoalan yang mudah.
Apalagi, mereka tersebar di berbagai wilayah teritorial yang beragam
karakter dan latar belakang sosialnya. Ada kesenjangan yang begitu
lebar antara kota dan desa. Kompetensi gurunya pun jelas mengalami
ketimpangan karena faktor fasilitas dan kemudahan mengakses informasi
dan keilmuan. Mereka yang tinggal di kota jelas memiliki kemudahan
dalam memutakhirkan pengetahuan dan keilmuan melalui akses media publik
semacam internet. Sementara itu, yang tinggal di daerah pedesaan dan
pedalaman? Atau, yang lebih tragis, mereka yang tinggal di kawasan yang
masuk kategori terpencil? Alih-alih memutakhirkan ilmu, bisa konsisten
mengasah kerak ilmu yang memfosil dalam tempurung kepala saja sudah
termasuk layak dikagumi.

Alangkah cerahnya masa depan negeri ini
jika anak-anak dusun dan pelosok yang sekarang tengah gencar memburu
ilmu di bangku sekolah mendapat bekal keilmuan yang sama dengan
saudara-saudaranya yang tinggal di kota. Harapan itu bisa terwujud jika
mereka mendapatkan layanan pendidikan yang baik dan bermutu.

Saya
jadi berkhayal. Ketika anak-anak belajar, mereka tidak lagi dicekoki
oleh suara guru yang seringkali terdengar sumbang, bahkan seringkali
mengindoktrinasi siswa didiknya melalui pendekatan behaviouristik
yang cenderung memperlakukan siswa sebagai objek yang tak tahu apa-apa.
Mereka juga tidak rawan kena TBC akibat terlalu banyak menyedot serbuk
kapur tulis yang memenuhi ruang kelas yang pengap dan sumpek.

Alangkah menarik dan menyenangkan kalau
setiap hari anak-anak bisa belajar secara leluasa, tanpa dibatasi oleh
empat dinding “penjara” kelas. Mereka bisa mengakses informasi dan
pengetahuan melalui aktivitas surfing di internet. Dalam
mengerjakan tugas, mereka tak lagi menghabiskan banyak duit untuk beli
kertas dan alat tulis. Mereka cukup duduk di depan layar monitor,
menjawab tugas dari blog gurunya, lantas mengumpulkannya melalui attachment file ke alamat e-mail gurunya. Otak mereka dipenuhi dengan informasi dan pengetahuan baru yang mereka update lewat surfing di
internet, menjelajahi situs dan blog yang sarat dengan ranah ilmu yang
mencerahkan. Aktivitas pembelajaran jadi lebih aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru pun juga senantiasa tertantang
untuk selalu meng-update wawasan keilmuan.

Sayangnya, khayalan semacam itu hanya
bisa mengendap di lorong imajinasi saya. Secara jujur mesti diakui,
dunia pendidikan kita masih amat miskin sentuhan pembelajaran
elektronik (e-learning). Boro-boro siswa yang tinggal di
pelosok-pelosok dusun, para siswa yang tinggal di kota pun belum
semuanya mampu bersentuhan dengan internet.

Sistem pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru
secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target
waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus
dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.

E-learning telah mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis. E-learning mempermudah
interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi, peserta didik
dengan dosen/guru/instruktur maupun sesama peserta didik. Peserta didik
dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar
setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu
peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi
pembelajaran.

Dalam e-learning, faktor kehadiran guru atau pengajar
otomatis menjadi berkurang atau bahkan tidak ada. Hal ini disebabkan
karena yang mengambil peran guru adalah komputer dan panduan-panduan elektronik yang dirancang oleh “contents writer”, designer e-learning dan pemrogram komputer. (Sumber: Wikipedia)

Wah, sungguh, para pengambil kebijakan
mesti mulai meliriknya. Jaringan infrastruktur informasi harus terus
dibangun secara merata hingga ke pelosok yang terpencil sekalipun.
Suatu ketika, mudah-mudahan khayalan saya yang ngelantur tadi bisa
terwujud.

Kompetisi Blog elearning Nah, beberapa waktu yang lalu saya sempat blogwalking ke blog Pak Dani Iswara. Dalam sebuah postingannya, beliau menginformasikan tentang Lomba Blog eLearning Indonesia dalam Edufiesta
yang digelar oleh acer-elearning. Informasi selengkapnya, silakan
meluncur ke blog Pak Dani Iswara. Dalam pengumuman, lomba tersebut
memang hanya diperuntukkan bagi dosen dan mahasiswa. Namun, dalam forum
tanya-jawab, lomba ini akhirnya dinyatakan terbuka juga untuk guru dan
siswa.

Para dosen, mahasiswa, guru, dan siswa
yang kebetulan juga seorang bloger bisa ikut meramaikan kompetisi ini
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Disediakan hadiah menarik, mulai
Notebook Ferrari hingga uang tunai. Makanya, buruan daftar. Bukan
semata-mata hadiahnya, melainkan lebih sebagai upaya “starting point
agar dunia pendidikan kita mulai memanfaatkan pembelajaran elektronik
sebagai pendekatan dalam aktivitas pendidikan mutakhir. Nah, bagaimana?
***



1 Comment So Far

dani on 10 September, 2008 at 7:19 pm #
    

semenjak pake wordpress, fs br agak lancar trackback-nya :)
tp lombanya masi bermasalah kayaknya..


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: